Karl Marx:Penghapusan Hak Pemilikan Atas Tanah
Web Hosting by Brinkster
Karl Marx
Penghapusan Hak Pemilikan Atas Tanah
Memorandum untuk Robert Applegarth, 3 Desember 1869
Versi Inggris : The Abolition of Landed Property; Memorandum
for Robert Applegarth, 1869
Sumber: : Http://www.geocities.com/edicahy
Versi Online : Indomarxist.Net, Http://come.to/indomarxist, Mei
2003
Kontributor : Edi Cahyono
Saudara yang tercinta,
Pemilikan atas tanah, sumber awal dari semua kekayaan-telah menjadi masalah besar yang pemecahannya menentukan hari-depan klas pekerja.
Sekalipun tidak bermaksud mendiskusikan di sini semua argumen yang dikedepankan oleh para pembela hak-pemilikan partikelir atas tanah-para ahli-hukum, filsafat, dan ekonomi-politik-pertama-tama akan kita nyatakan bahwa mereka menyamarkan kenyataan sebenarnya tentang penaklukan dengan jubah hak-alamiah. Jika penaklukan (perebutan) merupakan suatu hak alamiah di pihak (orang-orang) yang sedikit jumlahnya, maka yang banyak hanya perlu mengumpulkan kekuatan secukupnya untuk memperoleh hak alamiah merebut kembali yang telah dirampas dari pihak mereka. Dalam perjalanan sejarah, para penakluk itu berusaha memberikan semacam sanksi sosial pada hak asli mereka yang mereka dapatkan melalui kekerasan kasat mata, melalui alat-alat hukum yang mereka paksakan. Pada akhirnya datanglah filsuf yang menyatakan hukum-hukum itu mengimplikasikan persetujuan universal dari masyarakat. Seandainya memang benar hak-pemilikan tanah secara perseorangan itu berdasarkan persetujuan universal seperti itu, maka kita menegaskan bahwa perkembangan ekonomi masyarakat, peningkatan jumlah dan konsentrasi rakyat, keharusan akan kerja kolektif dan terorganisasinya pertanian maupun mesin-mesin dan penemuan-penemuan serupa, menjadikan nasionalisasi atas tanah suatu keharusan sosial, yang terhadapnya tidak akan mempan segala macam omongan tentang hak-hak pemilikan.
Perubahan-perubahan yang mengucapkan keharusan sosial pasti akan berjalan, lambat atau cepat, karena tuntutan-tuntutan kebutuhan masyarakat harus dipenuhi, dan perundang-undangan selalu akan dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan keperluan itu.
Yang kita perlukan ialah produksi yang hari demi hari meningkat, yang urgensinya tidak dapat dipenuhi dengan membiarkan sekelompok kecil individu mengaturnya sesuka mereka dan kepentingan-kepentingan pribadi atau secara bodoh menghabis-habiskan daya bumi (tanah). Semua cara modern seperti irigasi, drainasi, penggarapan tanah dengan mesin, pemeliharaan secara kimiawi, dsb., pada akhirnya haruslah dilakukan dalam pertanian. Namun, pengetahuan ilmiah yang kita miliki, dan alat-alat tehnik pertanian yang kita kuasai, seperti permesinan, dsb., tidak akan pernah dapat diterapkan secara berhasil kecuali dengan pembumidayaan tanah secara besar-besaran. Penggarapan tanah secara besar-besaran, bahkan dalam bentuk sekarang yang kapitalistik, yang memerosotkan produser itu sendiri menjadi sekedar hewan kerja-mesti menunjukan hasil-hasil yang jauh lebih unggul ketimbang penggarapan tanah secara sebagian-sebagian dan kecil-kecilan tidakkah itu, jika diterapkan dalam dimensi-dimensi nasional, jelas memberikan dorongan luar biasa pada produksi? Kebutuhan rakyat yang terus-meningkat di satu pihak, terus meningkatnya harga produk-produk agrikultur di lain pihak, menjadi bukti yang tidak dapat disangkal bahwa nasionalisasi atas tanah telah menjadi suatu keharusan sosial. Pengerdilan produksi pertanian yang bersumber pada penyalahgunaan individual menjadi tidak dimungkinkan lagi dengan pelaksanaan kultivasi yang terkendali / diawasi, dengan suatu biaya dan demi keuntungan bangsa.
Perancis seringkali dijadikan contoh, tetapi dengan hak-pemilikan pertaniannya, Perancis adalah lebih jauh dari nasionalisasi tanah jika dibandingkan dengan Inggris dengan landlordisme-(sistem tuan-tanah)-nya. Memang benar, bahwa di Perancis, tanah itu ‘terbuka’ bagi semua orang yang dapat membelinya, tetapi justru kemudahan ini telah melahirkan pembagian tanah menjadi bidang-bidang kecil yang digarap oleh orang yang berpenghasilan rendah dan terutama mesti bersandar pada sumber-sumber kerja badaniah diri mereka sendiri dan keluarga-keluarga mereka. Bentuk pemilikan tanah ini dan penggarapan yang berbidang kecil-kecil yang diakibatkannya tidak saja memustahilkan semua penerapanan kemajuan-kemajuan pertanian modern, melainkan sekaligus mengubah penggarap itu sendiri menjadi musuh paling keras terhadap segala kemajuan sosial, dan terutama sekali, musuh terhadap nasionalisasi tanah. Terikat pada tanah, yang penggarapannya menyedot seluruh daya vitalnya agar dapat memperoleh hasil yang relatif sedikit, terikat pula untuk melepaskan sebagian besar poroduksinya kepada negara dalam bentuk pajak-pajak, pada hukum rumpun dalam bentuk biaya-biaya judiciary, dan pada lintah-darat dalam bentuk bunga; sepenuhnya buta mengenai gerakan masyarakat di luar bidang sempit kegiatannya; ia masih saja bergayut dengan kecintaan-buta pada bidang tanahnya dan sekedar hak-pemilikannya yang cuma nominal atas bidang tanah itu. Dengan cara ini, petani Perancis telah terlempar ke dalam antagonisme yang paling fatal dengan klas pekerja industrial. Hak pemilikan tanah pertanian dengan demikian menjadi halangan terbesar bagi nasionalisasi tanah.
Perancis, dalam keadaannya sekarang, jelas bukan tempat di mana kita mesti mencari suatu pemecahan bagi masalah besar ini. Menasionalisasi tanah dan membaginya dalam bidang-bidang tanah kecil pada orang perseorangan atau perhimpunan-perhimpunan pekerja akan, dengan sebuah pemerintah klas-menengah, cuma menimbulkan persaingan serampangan di antara mereka, dan menyebabkan suatu peningkatan ‘bunga’ tertentu, dan dengan demikian memberikan fasilitas-fasilitas baru pada para pemilik dalam menghisap kaum produsen.
Dalam Kongres Internasional di Brussel, pada tahun 1868, seorang teman berkata:
“Hak pemilikan tanah kecil secara perseorangan bernasib gagal oleh keputusan ilmu pengetahuan; hak pemilikan tanah luas secara perseorangan oleh keadilan. Maka hanya tersisa satu alternatif saja. Tanah mesti menjadi milik persekutuan-persekutuan desa, atau milik seluruh bangsa. Masa depan akan menentukan hal ini.”
Tetapi saya, sebaliknya, mengatakan:
“Masa depan akan menentukan bahwa tanah hanya dapat dimiliki secara nasional. Menyerahkan tanah ke tangan pekerja-pekerja pedesaan yang bersatu akan berarti menyerahkan seluruh masyarakat pada satu klas produser saja. Nasionalisasi atas tanah akan menghasilkan suatu perubahan menyeluruh dalam hubungan antara kerja dan modal dan akhirnya akan sepenuhnya menghapus produksi kapitalis, baik yang industrial atau yang pedesaan. Hanya pada waktu itulah perbedaan-perbedaan klas dan hak-hak istimewa klas akan lenyap bersama basis ekonomik yang menjadi asal-muasalnya dan masyarakat akan ditransformasi menjadi suatu asosiasi kaum ‘produser’. Hidup atas kerja orang lain akan menjadi sesuatu dari masa lalu. Tidak akan ada lagi suatu pemerintahan atau suatu negara yang beda dari masyarakat itu sendiri.”
Pertanian, pertambangan, manufaktur, singkat kata, semua cabang produksi akan secara bertahap terorganisasi dalam bentuk yang paling efektif. Sentralisasi atas alat-alat produksi secara nasional akan menjadi basis alamiah sesuatu masyarakat yang tersusun dari asosiasi-asosiasi para produser yang bebas dan sederajat, yang secara sadar beraksi berdasarkan sebuah rencana umum dan rasional.
Demikian itulah tujuan yang menjadi arah/kecenderungan gerakan besar ekonomi abad ke XIX.
Web Hosting by Brinkster
DIPUBLIKASIKAN PADA SITUS INDO-MARXIST: HTTP://COME.TO/INDOMARXIST
V.I. LENIN
TIGA SUMBER DAN KOMPONEN MARXISME[1]
Di segenap penjuru dunia yang beradab, ajaran-ajaran Marx ditentang dan diperangi oleh semua ilmu pengetahuan borjuis (baik pejabat resmi -official- maupun kaum liberal), yang memandang Marxisme semacam “sekte jahat”. Tidak bisa diharapkan adanya sikap lain, karena tidak ada ilmu sosial yang netral dalam suatu masyarakat yang berbasiskan perjuangan kelas. Lewat satu dan lain cara, semua pejabat resmi dan ilmuwan liberal, membela perbudakan upahan (wage slavery). Sedangkan Marxisme telah jauh-jauh hari menyatakan perang tanpa henti terhadap perbudakan itu. Mengharapkan sikap netral dari ilmu pengetahuan dalam masyarakat perbudakan upahan adalah bodoh, sama naifnya dengan mengharapkan sikap netral dari para pemilik pabrik dalam menghadapi pertanyaan apakah upah buruh dapat dinaikkan tanpa mengurangi keuntungan modal.
Tapi bukan hanya itu. Sejarah filosofi dan sejarah ilmu-ilmu sosial memperlihatkan dengan jelas bahwa dalam Marxisme tidak terdapat adanya “sektarianisme”, dalam artian adanya doktrin-doktrin yang sempit dan picik , doktrin yang dibangun jauh dari jalan raya perkembangan peradaban dunia. Sebaliknya, si jenius Marx dengan tepat menempatkan jawaban-jawaban terhadap berbagai pertanyaan yang diajukan oleh pikiran-pikiran termaju dari umat manusia. Doktrin-doktrinnya bangkit sebagai kelanjutan langsung dari ajaran-ajaran besar dalam bidang filosofi, ekonomi-politik, dan sosialisme.
Doktrin-doktrin Marxist bersifat serba guna karena tingkat kebenarannya yang tinggi. Juga komplit dan harmonis, serta melengkapi kita dengan suatu pandangan dunia yang integral, yang tidak bisa dipersatukan dengan berbagai macam tahyul, reaksi, atau tekanan dari pihak borjuis. Marxisme merupakan penerus yang sah dari beberapa pemikiran besar umat manusia dalam abad 19, yang direpresentasikan oleh filsafat klasik Jerman, ekonomi-politik Inggris dan sosialisme Prancis.
Inilah tiga sumber dari Marxisme, yang akan kita bahas secara ringkas beserta komponen-komponennya.
I
Filsafat yang dipakai Marxisme adalah materialisme. Sepanjang sejarah Eropa modern, dan khususnya pada akhir abad 18 di Prancis, di mana terdapat perjuangan yang gigih terhadap berbagai sampah dari abad pertengahan, terhadap perhambaan dalam berbagai lembaga dan gagasan, materialisme terbukti merupakan satu-satunya filosofi yang konsisten, benar terhadap setiap cabang ilmu alam dan dengan gigih memerangi berbagai bentuk tahyul, penyimpangan dan seterusnya. Musuh-musuh demokrasi selalu berusaha untuk “menyangkal”, mencemari dan memfitnah materialisme, membela berbagai bentuk filosofi idealisme, yang selalu, dengan satu dan lain cara, menggunakan agama untuk memerangi materialisme.
Marx dan Engels membela filosofi materialisme dengan tekun dan berulangkali menjelaskan bagaimana kekeliruan terdahulu adalah setiap penyimpangan dari basis ini. Pandangan-pandangan mereka dijelaskan secara panjang lebar dalam karya Engels, Ludwig Feuerbach dan Anti-Duhring [2], yang seperti halnya Communist Manifesto,merupakan buku pegangan bagi setiap pekerja yang memiliki kesadaran kelas.
Tetapi Marx tidak berhenti pada materialisme abad 18. Ia mengembangkannya lebih jauh, ke tingkat yang lebih tinggi. Marx memperkaya materialisme dengan penemuan-penemuan dari filosofi klasik Jerman, khususnya sistem Hegel, yang kemudian mengarah kepada pemikiran Feuerbach. Penemuan yang paling penting adalah dialektika, yaitu doktrin tentang perkembangan dalam bentuknya yang paling padat, paling dalam dan amat komprehensif. Doktrin tentang relativitas pengetahuan manusia yang melengkapi kita dengan suatu refleksi terhadap materi-materi yang terus berkembang. Penemuan-penemuan terbaru dalam bidang ilmu alam, radium, elektron, transmutasi elemen, merupakan bukti nyata dari materialisme dialektis yang diajarkan Marx, berbeda dengan ajaran-ajaran para filosof borjuis dengan idealisme mereka yang telah usang dan dekaden.
Marx memperdalam dan mengembangkan filosofi materialisme sepenuhnya, serta memperluas pengenalan terhadap alam dengan memasukkan pengenalan terhadap masyarakat manusia. Materialisme Historisnya yang dialektis merupakan pencapaian besar dalam pemikiran ilmiah. Kekacauan yang merajalela dalam berbagai pandangan sejarah dan politik digantikan dengan suatu teori ilmiah yang amat integral dan harmonis, yang memperlihatkan bagaimana, dalam konsekwensinya dengan pertumbuhan kekuatan-kekuatan produktif, suatu sistem kehidupan sosial muncul dari sistem kehidupan sosial yang ada sebelumnya dan berkembang melalui berbagai tahapan–contoh kongkretnya: kapitalisme yang muncul dari feodalisme.
Seperti halnya pengetahuan manusia merefleksikan alam (yang merupakan materi yang berkembang), yang keberadaannya tidak tergantung dari manusia, begitu pula pengetahuan sosial (berbagai pandangan dan doktrin yang dihasilkan manusia–filosofi, agama, politik, dan seterusnya) merefleksikan sistem ekonomi dari masyarakat. Berbagai lembaga politik merupakan superstruktur di atas fondasi ekonomi. Kita melihat, sebagai contoh, bahwa berbagai bentuk politis dari negara-negara Eropa modern memperkuat dominasi pihak borjuasi terhadap pihak proletariat.
Filosofinya Marx merupakan filosofi materialisme terapan, yang mana membekali umat manusia, khususnya kelas pekerja, dengan alat-alat pengetahuan yang ampuh.
II
Setelah menyadari bahwa sistem ekonomi merupakan fondasi, yang di atasnya superstruktur politik didirikan, Marx mencurahkan sebagian besar perhatiannya untuk mempelajari sistem ekonomi ini. Karya Marx yang prinsipal, Das Kapital, merupakan hasil studinya yang mendalam terhadap sistem ekonomi modern: kapitalisme.
( Ilmu—pent ) ekonomi politik yang klasik, sebelum Marx, berkembang di Inggris, negeri kapitalis yang paling maju saat itu. Adam Smith dan David Ricardo, dengan investigasi mereka terhadap sistem ekonomi, meletakkan dasar-dasar dari teori nilai kerja. Marx melanjutkan karya mereka, ia menguji teori itu dan mengembangkannya secara konsisten. Ia melihat bahwa nilai dari setiap komoditi ditentukan oleh kuantitas waktu kerja yang dibutuhkan secara sosial, yang digunakan untuk memproduksi komoditi itu.
Jika para ahli ekonomi borjuis melihat hubungan antar-benda (pertukaran antar-komoditi ), Marx memperhatikan hubungan antar-manusia. Pertukaran komoditi mencerminkan hubungan-hubungan di antara para produsen individual yang terjalin melalui pasar. Uang memperlihatkan bagaimana hubungan itu menjadi semakin erat, yang tanpa terpisahkan menyatukan seluruh kehidupan ekonomi dari para produsen menjadi satu keseluruhan. Modal (kapital) memperlihatkan suatu perkembangan lanjutan dari hubungan ini. Tenaga kerja manusia menjadi suatu komoditi. Para pekerja upahan menjual tenaga kerjanya kepada para pemilik tanah, pemilik pabrik dan alat-alat kerja. Seorang pekerja menggunakan sebagian waktu kerjanya untuk menutup biaya hidupnya dan keluarganya (mendapat upah), sebagian lain waktu kerjanya digunakan tanpa mendapat upah, semata-mata hanya mendatangkan nilai lebih untuk para pemilik modal. Nilai lebih merupakan sumber keuntungan, sumber kemakmuran bagi kelas pemilik modal.
Doktrin tentang nilai lebih merupakan dasar (cornerstone) dari teori ekonomi yang dikemukakan oleh Marx.
Modal, yang diciptakan dari hasil kerja para pekerja, justru menghantam para pekerja, memporakporandakan para pemilik modal kecil dan menciptakan barisan pengangguran. Dalam bidang industri, kemenangan produksi berskala besar segera tampak, tetapi gejala yang sama juga dapat dilihat pada bidang pertanian, di mana keunggulan pertanian bermodal besar semakin dikembangkan. Penggunaan mesin-mesin pertanian ditingkatkan, mengakibatkan ekonomi para petani kecil terjebak oleh modal-uang, kemudian jatuh dan hancur berantakan disebabkan teknik produksi yang kalah bersaing. Penurunan produksi berskala kecil mengambil bentuk-bentuk yang berbeda dalam bidang pertanian, akan tetapi proses penurunan itu sendiri merupakan suatu hal yang tidak terbantahkan.
Dengan menghancurkan produksi berskala kecil, modal mendorong peningkatan produktivitas kerja dan menciptakan posisi monopoli bagi asosiasi kapitalis besar. Produksi itu sendiri menjadi semakin sosial –ratusan ribu, bahkan jutaan pekerja diikat dalam suatu organisme ekonomi reguler– tapi hasil dari kerja kolektif ini dinikmati oleh sekelompok pemilik modal. Anarki produksi, krisis, kekacauan harga pasaran, serta ancaman terhadap sebagian terbesar anggota masyarakat, semakin memburuk.
Dengan mengembangkan ketergantungan para pekerja pada modal, sistem ekonomi kapitalis menciptakan kekuatan besar dari persatuan para pekerja.
Marx menyelidiki perkembangan kapitalisme dari ekonomi komoditi tahap awal, dari pertukaran yang sederhana, hingga bentuk-bentuknya yang tertinggi, produksi berskala besar.
Dan dari pengalaman negeri-negeri kapitalis, yang lama dan baru, dari tahun ke tahun, terlihat dengan jelas kebenaran dari doktrin-doktrin Marxian ini.
Kapitalisme telah menang di seluruh dunia, tetapi kemenangan ini hanyalah merupakan awal dari kemenangan para pekerja terhadap modal yang membelenggu mereka.
III
Ketika feodalisme tersingkir, dan masyarakat “merdeka” kapitalis muncul di dunia, maka muncullah suatu sistem untuk penindasan dan eksploitasi terhadap golongan pekerja. Berbagai doktrin sosialis segera muncul sebagai refleksi dari dan protes terhadap penindasan ini. Sosialisme pada awalnya, bagaimanapun, merupakan sosialisme utopis. Ia mengkritik masyarakat kapitalis, mengutuknya, memimpikan keruntuhan kapitalisme. Ia mempunyai gagasan akan adanya pemerintahan yang lebih baik yang berusaha membuktikan kepada orang-orang kaya bahwa eksploitasi itu tidak bermoral.
Namun sosialisme utopis tidak memberikan solusi nyata. Ia tak dapat menjelaskan sifat sebenarnya dari perbudakan upahan di bawah sistem kapitalisme. Ia tak mampu mengungkapkan hukum-hukum perkembangan kapitalis atau memperlihatkan kekuatan sosial apa yang mampu membentuk suatu masyarakat yang baru.
Sementara itu, berbagai revolusi terjadi di Eropa, khususnya di Prancis, mengiringi kejatuhan feodalisme, perhambaan, yang semakin lama semakin jelas mengungkapkan perjuangan klas-klas sebagai basis dan kekuatan pendorong dari semua perkembangan.
Setiap kemenangan kebebasan politis atas klas feodal dimenangkan dari perlawanan yang mati-matian. Setiap negeri kapitalis berkembang di atas basis yang kurang-lebih demokratis, diakibatkan adanya perjuangan hidup-mati di antara klas-klas yang ada dalam masyarakat kapitalistik.
Kejeniusan Marx adalah karena ia yang pertama kalinya menyimpulkan pelajaran sejarah dunia dengan tepat dan menerapkan pelajaran itu secara konsisten. Kesimpulan yang dibuatnya menjadi doktrin dari perjuangan klas.
Rakyat selalu menjadi korban dari penipuan dan kemunafikan dunia politik, mereka akan selalu begitu sampai mereka mencoba mencari tahu apa kepentingan dari klas-klas yang ada dalam masyarakat, apa yang ada di balik segala macam ajaran moral, agama dan janji-janji politik. Para pemenang dari proses reformasi dan pembangunan akan selalu terkecoh oleh para pendukung pemerintahan lama, sampai mereka menyadari bahwa setiap lembaga yang lama, sekeji apapun tampaknya, akan tetap dijalankan oleh kekuatan-kekuatan dari klas-klas tertentu yang berkuasa. Hanya ada satu kelompok yang mampu menghantam usaha perlawanan dari klas-klas itu, dan itu bisa ditemukan dalam masyarakat kita, kelompok yang mampu dan harus menggalang kekuatan untuk perjuangan menyingkirkan yang lama dan mendirikan yang baru.
Filosofi materialisme yang dipaparkan Marx menunjukkan jalan bagi proletariat untuk bebas dari perbudakan spiritual yang membelenggu setiap kelas yang tertindas hingga kini. Teori ekonomi yang dijabarkan Marx menjelaskan posisi sebenarnya dari proletariat di dalam sistem kapitalisme.
Organisasi-organisasi independen milik proletariat semakin bertambah banyak jumlahnya, dari Amerika hingga Jepang, dari Swedia hingga Afrika Selatan. Proletariat menjadi semakin tercerahkan dan terdidik dengan membiayai perjuangannya sendiri; mereka membuktikan kesalahan tuduhan-tuduhan masyarakat borjuis; mereka terus memperbaiki strategi perjuangan; menggalang kekuatan dan tumbuh tak terbendung.
Prosveshcheniye No. 3, Maret 1913 Selected Works, Vol. 19, pp. 23-28
Ditandatangani V.I.
[1] Artikel ini ditulis oleh Lenin untuk memperingati 30 tahun kematian Marx dan dipublikasikan dalam Prosveshcheniye No. 3 tahun 1913. Prosveshcheniye (Pencerahan)—adalah terbitan teoritik bulanan kaum Bolshevik yang diterbitkan secara legal di St.Petersburg mulai bulan Desember 1911 sampai Juni 1914. Oplahnya mencapai 5000 eksemplar. Lenin memimpin penerbitan ini dari luar negeri, awalnya di Paris, kemudian Cracow dan Poronin; dia mengedit artikel-artikelnya melalui korespondensi yang intens dengan para editor.
Pada masa PD I majalah ini dibredel oleh rejim Tsar. Kemudian terbit lagi pada musim gugur tahun 1917 tapi hanya sekali terbit.
[2] Referensinya adalah tulisan Engels “Anti-Duhring: Herr Eugen Duhring’s Revolution in Science”
Web Hosting by Brinkster
DIPUBLIKASIKAN PADA SITUS INDO-MARXIST: HTTP://COME.TO/INDOMARXIST
V.I. LENIN
PROGRAM KITA
Pada saat ini Sosial Demokrasi Internasional, sedang berada dalam kegoncangan ideologis. Malah doktrin Marx dan Engels yang sudah diakui menjadi landasan kokoh bagi teori revolusioner, sekarang diganggu dengan suara yang dimunculkan dimana-mana untuk menggembar-gemborkan bahwa doktrin-doktrin ini tak lagi memadai dan usang. Maka dari itu, siapapun yang menyatakan dirinya seorang Sosial Demokrat dan memiliki kehendak untuk menerbitkan sebuah organ Sosial Demokrat, harus menjelaskan sikapnya dengan sebaik-baiknya terhadap persoalan yang saat ini memenuhi perhatian kaum Sosial Demokrat Jerman, bukan hanya mereka sendiri.
Sekarang kita berdiri membela sepenuhnya posisi teoritis kaum Marxist : Marxismelah yang pertama mengubah sosialisme dari utopia menjadi pengetahuan ilmiah. Marxisme meletakkan landasan kokoh untuk pengetahuan ini, dan menunjukkan jalan yang harus diikuti, dalam usaha mengembangkan dan mengelaborasi lebih jauh semua bagian-bagiannya. Marxisme memblejeti watak asli ekonomi kapitalisme modern dengan menjelaskan soal penyewaan buruh, pembelian tenaga kerja, kemunafikan atas perbudakan terhadap berjuta-juta rakyat yang tak berpunya di tangan segelintir kaum kapitalis, pemilikan atas tanah, pabrik, tambang dan sebagainya. Marxisme memperlihatkan bahwa semua perkembangan kapitalisme modern menunjukkan kecenderungan bahwa produksi dengan skala besar membatasi produksi kecil, dan menciptakan kondisi-kondisi yang membuat sebuah sistem sosialis menjadi mungkin dan diperlukan. Marxisme mengajarkan kepada kita bagaimana melihat secara tajam, di bawah selubung kebiasaan-kebiasaan sudah mengakar, intrik-intrik politik, hukum yang sulit dimengerti, dan doktrin-doktrin yang berbelit-belit —yaitu perjuangan klas, perjuangan antara klas-klas yang bermilik dan semua jenisnya dengan massa rakyat yang tak bermilik, kaum proletariat, yang merupakan pimpinan dari semua yang tak bermilik. Dari itu, jelaslah tugas nyata dari sebuah partai sosialis revolusioner: bukan untuk melaksanakan rencana-rencana memperbaharui (refashioning=perubahan tambal sulam, pent) masyarakat, bukan untuk memuji-muji kaum kapitalis dan para pengikutnya karena menambah jumlah pekerja, bukan untuk menyusun konspirasi-konspirasi, tetapi untuk mengorganisasikan perjuangan klas proletariat, dan memimpin perjuangan ini, yang bertujuan akhir mengambil-alih kekuasaan politik oleh proletariat serta pengorganisian sebuah masyarakat sosialis.
Dan sekarang kita bertanya: Apakah terdapat sesuatu yang baru yang telah disumbangkan ke dalam teori ini oleh suara kerasnya “para renovator” yang memunculkan begitu banyak keributan di keseharian kita dan telah mengelompokkan dirinya di sekitar pendukung Bernstein sosialis Jerman ? Sama sekali tidak ada. Tidak satu langkah pun yang sudah mereka kembangkan terhadap pengetahuan Marx dan Engels yang membuat kita bisa berkembang. Mereka tidak pernah mengajarkan kepada kaum proletariat tentang satu metode perjuangan yang baru; mereka hanya mundur, meminjam fragmen dari teori-teori terbelakang dan berkhotbah kepada kaum proletar tentang teori konsesi, dan bukan tentang teori perjuangan. Berkonsesi terhadap musuh-musuh bebuyutan kaum proletariat, pemerintah dan partai-partai borjuis yang tak kenal lelah mencari alat-alat yang baru untuk menyerang kaum sosialis. Plekhanov, salah satu pendiri dan pemimpin Sosial Demokrasi Rusia, sepenuhnya benar ketika mengkritik tanpa ampun terhadap “kritik” terakhir Bernstein; pandangan-pandangan Bernstein kini telah ditolak oleh wakil-wakil pekerja Jerman (pada Konggres Hannover).
Kita mengantisipasi banjir tuduhan untuk kata-kata berikut ini; teriakan-teriakan akan muncul ketika kita ingin mengubah partai sosialis menjadi sebuah tatanan “pengikut sejati” yang menghina penyimpangan-penyimpangan “orang kafir” dari “dogma”, untuk setiap opini yang independen dan sebagainya. Kita mengerti semua kalimat yang tajam dan bergaya ini. Hanya saja itu salah dan tak bermakna. Tidak akan pernah terdapat partai sosialis yang kuat tanpa sebuah teori yang revolusioner yang menyatukan semua kaum sosialis, yang menjadi sumber keyakinannya, dan yang mereka terapkan dalam metode-metode perjuangan dan sarana-sarana tindakannya. Untuk mempertahankan suatu teori, yang menurutmu paling tepat dan kamu yakini benar, perlawanan terhadap serangan-serangan tak berdasar dan usaha-usaha untuk mengkorupnya tidak membuatmu jadi musuh dari semua kritisisme.
Kita tidak menghargai teori Marx sebagai sesuatu yang sempurna dan tak dapat diganggu-gugat; sebaliknya, kita yakin bahwa teori Marx hanya meletakkan batu pondasi bagi pengetahuan yang harus dikembangkan oleh kaum sosialis di segala bidang, jika mereka berharap mengikuti jaman. Kami pikir bahwa sebuah elaborasi yang independen terhadap teori Marx adalah sesuatu yang mendasar khususnya bagi kaum sosialis Rusia; Jadi teori ini hanya memberikan prinsip-prinsip bimbingan umum, yang dalam kekhususannya (in particular), diterapkan secara berbeda di Inggris dari di Prancis, di Prancis berbeda dari di Jerman, di Jerman berbeda dari di Rusia. Karena itu kami akan dengan senang hati memberikan ruang di dalam majalah kami untuk artikel-artikel tentang persoalan-persoalan teoritik dan kami mengundang semua kawan untuk berdiskusi secara terbuka pada point-point yang kontroversial.
Apa yang menjadi persoalan utama di Rusia dalam menerapkan program umum bagi semua kaum Sosial Demokrat ?
Kami sudah nyatakan bahwa esensi dari program ini adalah mengorganisasikan perjuangan klas proletariat, memimpin proletariat dan pembentukan sebuah masyarakat sosialis. Perjuangan klas proletariat mencakup perjuangan ekonomis (perjuangan melawan individu kapitalis atau kelompok individu kapitalis untuk peningkatan kondisi pekerja) dan perjuangan politik (perjuangan melawan pemerintah untuk memperluas hak-hak rakyat, misalnya untuk demokrasi, dan untuk memperluas kekuatan politik proletariat). Beberapa dari kaum Sosial Demokrat (di antara mereka adalah yang jelas-jelas mendalangi Rabochaya Mysl ) menekankan perjuangan ekonomi jauh lebih penting dan lebih jauh membuang perjuangan politik pada masa depan yang tidak jelas. Cara pandang ini jelas salah. Semua kaum Sosial Demokrat sepakat bahwa perlu untuk mengorganisasikan perjuangan ekonomi kelas pekerja, bahwa perlu melakukan agitasi di antara para pekerja dengan basis (issu, pent) tersebut, misalnya untuk menolong para pekerja dalam perjuangan sehari-harinya melawan majikan; untuk menarik perhatian mereka terhadap segala bentuk dan segala kasus penindasan, dan dalam hal ini untuk memeri kejelasan kepada kaum buruh soal pentingnya kombinasi. Namun melupakan perjuangan politik untuk perjuangan ekonomi, akan bermakna penyimpangan prinsip dasar Sosial Demokrasi internasional, akan berarti melupakan apa yang diajarkan keseluruhan sejarah gerakan buruh kepada kita. Para pengikut sejati dari kaum borjuis dan pemerintah yang mengabdi kepadanya, telah berulang kali melakukan usaha-usaha mengorganisasikan serikat sekerja yang benar-benar ekonomis untuk memisahkan mereka dari ‘politik”, dari sosialisme. Jadi sangat mungkin pemerintah Rusia bisa melaksanakan hal semacam itu, sebagaimana mereka selalu memberikan beberapa sogokan kecil/remeh, atau lebih dari itu, sogokan pura-pura, kepada rakyat, hanya untuk mengalihkan pikiran mereka jauh-jauh dari fakta bahwa mereka (rakyat) ditindas dan tanpa hak. Tidak ada perjuangan ekonomis yang akan dapat membawa pekerja pada peningkatan yang tak henti, atau bahkan bisa dipimpin dalam skala besar, kecuali jika mereka memiliki hak mengorganisasikan secara bebas pertemuan-pertemuan dan serikat-serikat, memiliki surat kabarnya sendiri, dan mengirimkan wakil-wakilnya ke Majelis Nasional, sebagaimana yang dilakukan para pekerja di Jerman dan di semua negeri Eropa lainnya (kecuali Rusia dan Turki). Tapi dalam rangka memenangkan hak-hak ini maka perlu melancarkan perjuangan politik. Di Rusia bukan hanya pekerja, tetapi semua warga negara dilucuti hak-hak politiknya. Rusia adalah sebuah monarki absolut dan tak terbatas. Tsar sendirilah yang mengumumkan hukum-hukum, menunjuk pejabat-pejabat dan yang mengontrol hukum-hukum tersebut. Untuk alasan ini, kelihatannya seperti yang terjadi di Rusia, maka Tsar dan pemerintah Tsar adalah independen dari semua klas dan memperlakukan semua orang secara sama. Tetapi dalam kenyataannya semua pejabat dipilih secara eksklusif dari klas yang bermilik dan semua merupakan subyek yang berada di bawah pengaruh kaum kapitalis besar, yang membuat para menteri menari mengikuti nada mereka dan mencapai apapun yang mereka inginkan. Klas pekerja Rusia dibebani oleh dua beban; dirampok dan dirampas oleh kaum kapitalis dan tuan tanah, dan untuk mencegah klas pekerja bertarung dengan mereka maka polisi mengikat tangan dan kaki mereka, menyumbatnya, dan setiap usaha untuk memperjuangkan hak-hak rakyat dilecehkan. Setiap pemogokan melawan kaum kapitalis merupakan akibat dari luputnya militer dan polisi atas kaum pekerja. Setiap perjuangan ekonomi perlu menjadi sebuah perjuangan politik, dan Sosial Demokrasi harus bergabung satu dengan yang lain menjadi perjuangan tunggal klas proletariat.
Tujuan utama yang pertama dari gerakan semacam ini adalah merebut hak-hak politik, perebutan kebebasan politik. Jika para buruh di St.Petersburg secara sendirian, dengan sedikit bantuan dari kaum sosialis, telah dengan cepat berhasil menekan sebuah konsesi dari pemerintah —penetapan undang-undang pengurangan hari kerja— maka selanjutnya seluruh klas pekerja Rusia, dipimpin oleh PBSDR, akan mampu, dalam perjuangan yang gigih dan tak ada duanya memenangkan konsesi-konsesi yang lebih penting.
Klas pekerja Rusia memang mampu melancarkan perjuangan ekonomi dan politiknya sendiri, bahkan jika tidak ada klas lain yang datang membantu. Tapi dalam perjuangan politik klas pekerja tidak boleh berdiri sendiri. Kehausan rakyat akan hak-haknya, perlakuan hukum yang keji oleh para pejabat bashi-bazouk menyebabkan kemarahan dari orang-orang jujur yang terpelajar yang tidak dapat menggabungkan dirinya dengan penghinaan terhadap kebebasan berpikir dan kebebasan berbicara; mereka meluapkan kemarahannya atas penghinaan terhadap rakyat Polandia, Finlandia, Yahudi, dan sekte-sekte keagamaan di Rusia; mereka meluapkan kemarahannya atas para pedagang kecil, pengusaha kecil, dan petani, yang tidak dapat menemukan perlindungan di manapun dari ancaman penyiksaan para pejabat dan polisi. Semua kelompok dari populasi tidak mampu, secara terpisah, melaksanakan sebuah perjuangan politik yang gigih. Tetapi ketika klas pekerja mengangkat panji-panji perjuangan ini, klas pekerja akan menerima dukungan dari segala lini. Sosial Demokrasi Rusia akan menempatkan dirinya di pucuk pimpinan dari semua pejuang bagi hak-hak rakyat, dari semua pejuang demokrasi, dan akan membuktikan diri sebagai yang tak terkalahkan!
Kesemua ini merupakan pandangan-pandangan fundamental kita, dan kita akan mengembangkannya secara sistematis dari setiap aspek masalah kita. Kita yakin bahwa dengan cara ini kita akan menapak jalan yang telah ditunjukkan oleh PBSDR dalam Manifestonya yang sudah diterbitkan.
* * *
Ditulis kira-kira awal bulan Oktober 1899 Collected Works, Vol. 4,pp. 210-14
Dipublikasikan pertama kali tahun 1925 dalam Lenin Miscellany III
Web Hosting by Brinkster
Sosialisme Borjuis Kecil dan Sosialisme Proletar
V. I. Lenin (1905)
Diterbitkan: 7 November (25 Oktober) 1905 dalam Proletary No. 24 dan Collected Works, Volume 9, halaman 438-46
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Progress Publishers, Moskow, USSR, 1966
Diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Anonim
Dari bermacam doktrin sosialis, Marxisme-lah yang saat ini paling dominan di Eropa. Perjuangan untuk mencapai masyarakat sosialis hampir sepenuhnya dipahami oleh Marxisme sebagai perjuangan kelas buruh di bawah pimpinan partai-partai Sosial-Demokratis. Dominasi sosialisme proletariat ini berdasar pada ajaran Marxisme tidak dicapai seketika, tetapi semata setelah terjadi perjuangan panjang menentang bermacam doktrin usang, sosialisme borjuis kecil, anarkisme dan lain-lain. Sekitar 30 tahun yang lalu Marxisme tidak dominan, sekalipun di Jerman. Pandangan yang berlaku di negara tersebut bersifat transisi, bercampur baur dan eklektis, terletak diantara sosialisme borjuis kecil dan sosialisme proletariat. Doktrin-doktrin yang paling menyebar dikalangan buruh maju di negara-negara Romawi, di Perancis, Spanyol dan Belgia adalah Proudhonisme, Blanquisme [1] dan anarkisme yang nyata-nyata mengekspresikan cara pandang borjuis kecil, bukan proletariat. Apa yang menyebabkan cepat dan tuntasnya kemenangan Marxisme dalam dekade terakhir ini? Ketepatan pandangan Marxis dalam banyak hal telah dibuktikan oleh semua perkembangan masyarakat kontemporer baik ekonomi maupun politik, dan oleh seluruh pengalaman gerakan revolusioner serta perjuangan kelas-kelas tertindas. Kemunduran borjuis kecil, cepat atau lambat, tak dapat dielakkan akan mengakibatkan kepunahan segala macam prasangka borjuis kecil. Sementara itu tumbuhnya kapitalisme dan kian dalamnya perjuangan kelas dalam masyarakat kapitalis jadi agitasi terbaik bagi gagasan sosialisme proletar. Keterbelakangan Rusia itulah pada dasarnya yang bisa menjelaskan tetap kokohnya bermacam doktrin sosialis usang di sana. Seluruh sejarah aliran pemikiran revolusioner Rusia sepanjang perempat terakhir abad 19 adalah sejarah perjuangan Marxisme melawan sosialisme borjuis kecil Narodnik. [2] Meskipun kemajuan pesat dan keberhasilan luar biasa gerakan kelas pekerja Rusia pun sudah berhasil membuahkan kemenangan bagi Marxisme di Rusia tapi berkembangnya sebuah gerakan petani yang jelas revolusioner – khususnya revolusi petani terkenal di Ukraina tahun 1902 [3] – di satu sisi malah membangkitkan lagi Narodnisme kuno. Teori-teori Narodnik yang kuno dengan diwarnai oleh oportunisme Eropa yang populer masa itu (Revisionisme, Bernteinsime [4] dan kritisisme atas Marx), mendadani seluruh persediaan ideologis asli golongan yang umum disebut Sosialis-Revolusioner. [5] Itulah sebabnya mengapa masalah kaum petani menonjol dalam pertentangan Marxis melawan Narodnik sejati maupun golongan sosialis-revolusioner.
Untuk satu hal tertentu, Narodnisme adalah sebuah doktrin yang integral dan konsisten. Narodnisme menolak adanya dominasi kapitalisme di Rusia; menentang peran buruh pabrik sebagai pemimpin garis depan perjuangan kaum proletar; menolak pentingnya sebuah revolusi politik dan kebebasan politik borjuis; ia menyerukan perlu segera dilaksanakannya sebuah revolusi sosialis yang berangkat dari komune petani berikut bentuk-bentuk pertanian kecil-nya. Semua yang masih bertahan dalam teori integral ini sekarang hanyalah serpihan-serpihan saja, tapi untuk secara pandai memahami kontroversi-kontroversi yang berlangsung saat ini,dan menjaga supaya kontroversi itu tidak melorot menjadi sekedar perang mulut, orang semestinya ingat akar-akar Narodnik yang paling dasar dan umum yang sekaligus merupakan akar kesalahan Sosialis-Revolusioner kita.
Kaum Narodnik beranggapan bahwa kaum Muzhik adalah manusia Rusia masa depan. Pandangan ini tak pelak berkembang karena keyakinan mereka pada masa depan kapitalisme. Sedangkan kaum Marxis beranggapan bahwa buruh pekerja adalah manusia masa depan, dan perkembangan kapitalisme Rusia baik di bidang pertanian maupun industri makin menegaskan pandangan mereka. Gerakan kelas pekerja di Rusia telah berhasil memperoleh pengakuan bagi keberadaannya sendiri. Tetapi bagi gerakan petani, masih ada jurang pemisah antara Narodisme dan Marxisme hingga sekarang, yang mana hal ini terungkap dalam penafsiran mereka yang berbeda atas gerakan (petani) ini. Bagi kaum Narodnik, gerakan petani tersebut dengan sendirinya membuktikan kekeliruan Marxisme. Ini adalah gerakan yang bekerja untuk suatu revolusi sosialis yang langsung; gerakan ini tidak mengakui kebebasan politik borjuis; gerakan yang berangkat dari produksi skala kecil dan bukan produksi berskala besar. Singkatnya, bagi kaum Narodnik, gerakan petani lah yang benar-benar sosialis sejati dan segera merupakan gerakan sosialis. Kesetiaan Narodnik pada komune petani dan bentuk tertentu anarkisme Narodnik sepenuhnya bisa menjelaskan mengapa kesimpulan demikian yang selalu terumuskan. Bagi kaum Marxis, gerakan petani adalah gerakan demokratik, bukan gerakan sosialis. Di Rusia, seperti juga kasus di negara-negara lain, gerakan ini pasti sejalan dengan revolusi demokratik, revolusi yang borjuis kandungan sosial ekonominya. Gerakan yang sampai titik akhirnya memang tidak ditujukan untuk menggoyang pondasi tatanan borjuis, menentang prodksi komoditi atau melawan kapital. Sebaliknya gerakan itu ditujukan untuk menentang hubungan pra-kapitalis, hubungan perhambaan kuno di wilayah pedesaan dan melawan tuan-tanahisme, yang menjadi kunci seluruh kelangsungan hidup pemilikan hamba-hamba. Konsekuensinya kemenangan penuh gerakan petani ini tak akan menghapus kapitalisme; malahan sebaliknya, gerakan ini akan menciptakan pondasi lebih luas lagi bagi perkembangan kapitalisme, akan mempercepat serta memperdalam perkembangan kapitalis sejati. Kemenangan penuh pemberontakan kaum petani hanya bisa menciptakan benteng bagi republik demokrasi borjuis, yang didalamnya tumbuh untuk pertama kalinya suatu perjuangan proletariat melawan kehendak borjuasi dalam bentuk yang paling murni. Lantas, ada dua pandangan bertentangan yang harus dimengerti dengan jelas oleh siapapun yang ingin mempelajari jurang perbedaan prinsipil antara Sosialis-Revolusioner dan Sosialis-Demokrat. Merujuk ke salah satu pandangan, gerakan petani adalah gerakan sosialis, sedangkan merujuk ke pandangan lain gerakan petani adalah gerakan borjuis-demokratik. Dengan ini orang bisa lihat betapa gobloknya ungkapan orang-orang Sosialis-Revolusioner kita ketika mereka mengulang beratus kali (lihat, misalnya, dalam Revolutsionnaya Rossiya, no. 75) bahwa Marxis ortodoks telah mengabaikan masalah petani. Hanya ada satu cara untuk memberantas kebodohan berbahaya macam ini dan itu bisa diakukan dengan mengulang ABC; menyusun pandangan-pandangan Narodnik yang secara konsisten sudah kuno itu, dan beratus bahkan beribu kali menekan bahwa perbedaan yang sesungguhnya di antara kita itu tidak terletak pada soal berhasrat atau tidak berhasrat pada masalah petani, juga tidak terletak pada mengakui atau tidak mengakui masalah petani, tapi terletak pada perbedaan penilaian kita atas gerakan petani dan masalah petani saat ini di Rusia. Dia yang berkata bahwa Marxis mengabaikan masalah petani di Rusia adalah, pertama, seorang pengabai absolut. Sebab seluruh tulisan prinsipil Marcis Rusia, mulai dari tulisan Plekhanov Our Differences (muncul kurang lebih 20 tahun yang lalu), telah mencurahkan tenaga untuk menjelaskan kesalahan pandangan-pandangan kaum Narodnik mengenai masalah petani Rusia. Kedua, dia yang menyatakan bahwa Marcis mangabaikan masalah petani jelas menunjukkan hasratnya untuk menghindari keharusan memberi penilaian yang lengkap atas perbedaan prinsipil yang sesungguhnya, memberi jawaban atas pertanyaan apakah gerakan petani sekarang ini adalah gerakan borjuis atau tidak, apakah gerakan itu secara obyektif diarahkan untuk menghancurkan kelangsungan hidup penghambaan atau tidak.
Kaum Sosialis-Revolusioner tidak pernah memberikan, dan tidak selalu dapat memberikan satu jawaban jelas dan tepat pada masalah itu karena mereka menggapai-gapai tanpa harapan di antara pandangan kuno Narodnik dan pandangan Marxis saat ini mengenai masalah petani di Rusia. Kaum Marxis menyatakan bahwa kaum Sosialis-Revolusioner mewakili pendirian kaum borjuis kecil (mereka adalah ideolog kaum borjuis kecil) dengan alasan yang kuat bahwa mereka tidak dapat membersihkan diri dari ilusi-ilusi kaum borjuis kecil dan bayangan Narodnik dalam menilai gerakan buruh tani.
Itulah sebabnya mengapa kita mengulang ABC sekali lagi. Untuk apakah perjuangan kaum petani di Rusia saat ini? Untuk tanah dan kebebasan. Arti penting apa yang bakal dimiliki oleh seluruh kemenangan gerakan ini? Setelah meraih kemerdekaan, gerakan tersebut akan menghapuskan kekuasaan para tuan tanah dan birokrasi dalam adiminstrasi negara. Setelah berhasil menjaga tanah, gerakan itu akan memberikan tanah para tuan tanah kepada para petani. Akankah kemerdekaan penuh dan perampasan tanah dari para tuan tanah tersebut juga berarti penghapusan produksi komoditi? Tidak, tidak akan. Akankah kemerdekaan penuh dan perampasan tanah tuan tanah tersebut mengganti bentuk pertanian individual dengan bentuk rumah tangga petani atas dasar, tanah komunal, atau tanah yang “disosialkan”? Tidak, tidak akan. Akankah kemerdekaan penuh dan perampasan tanah tuan tanah menjembatani jurang dalam yang memisahkan petani kaya, yang memiliki sekian kuda dan sapi, dari pertanian-cangkulan, buruh harian, misalnya: jurang pemisah antara borjuis petani dengan proletar pedesaan? Tidak, tidak akan! Sebaliknya, makin tuntas sosial-estate (para Tuan Tanah) yang paling tinggi itu dienyahkan dan dilenyapkan maka akan makin dalamlah perbedaan kelas antara borjuis dan proletariat. Apakah yang secara obyektif bakal punya arti dengan adanya kemenangan penuh kebangkitan perlawanan buruh tani? Kemenangan tersebut akan menghilangkan seluruh kelangsungan hidup perhambaan, tetapi sama sekali tidak menghancurkan sistem ekonomi borjuis atau menghancurkan kapitalisme atau menghancurkan pembagian masyarakat ke dalam kelas-kelas – ke dalam golongan kaya dan miskin, borjuis dan proletar. Mengapa gerakan petani saat ini adalah gerakan borjuis-demokratik? Karena setelah menghancurkan kekuasaan birokrasi dan tuan-tuan tanah, gerakan itu akan menyusun sebuah sistem masyarakat demokratik, tapi bagaimanapun juga, itu dilakukan tanpa mengubah pondasi borjuis dari masyarakat demokratis tersebut, tanpa menghapuskan kekuasaan kapital. Bagaimanakah seharusnya buruh berkesadaran kelas, kaum sosialis, memandang gerakan petani saat ini? Ia harus mendukung gerakan ini, menolong petani dalam kondisi yang paling bertenaga, menolong mereka menyingkirkan tuntas segala kekuasaan birokrasi dan kekuasaan tuan-tuan tanah. Bagaimanapun, pada saat yang sama mereka harus menjelaskan kepada para petani bahwa tidak cukup cuma merobohkan kekuasaan birokrasi dan para tuan tanah. Ketika mereka merobohkan kekuasaan birokrasi dan para tuan tanah tersebut, saat itu juga mereka harus bersiap untuk menghapuskan kekuasaan kapital, kekuasaan borjuis, dan untuk maksud ini maka suatu doktrin yang sepenuhnya berwatak sosialis; yaitu Marxist, harus segera disebar, proletariat pedesaan harus dipersatukan, digalang bersama dan diorganisir untuk perjuangan melawan borjuis petani dan semua borjuis Rusia. Dapatkah seorang buruh yang berkesadaran kelas melupakan perjuangan demokratik demi perjuangan sosalis, atau melupakan perjuangan sosialis demi perjuangan demokratik? Tidak, seorang buruh yang berkesadaran kelas akan menyebut dirinya seorang sosial demokrat karena ia memahami kaitan dua perjuangan tersebut. Dia tahu bahwa tidak ada jalan lain yang bisa menyelamatkan jalan menuju sosialisme selain melalui demokrasi, kebebasan politik. Karenanya ia berjuang mencapai demokrasi sepenuhnya dan sekonsisten mungkin untuk mencapai tujuan puncak – sosialisme. Mengapa kondisi untuk perjuangan demokratik tidak sama dengan kondisi untuk perjuangan sosialis? Karena para buruh pekerja pasti akan memiliki sekutu yang berbeda di masing-masing dua perjuangan ini. Perjuangan demokratik dilakukan oleh buruh bersama dengan satu bagian dari borjuis, khususnya borjuis kecil. Di lain pihak, perjuangan sosialis dilakukan oleh buruh pekerja melawan seluruh borjuasi. Perjuangan melawan birokrat dan para tuan tanah dapat dan harus dilakukan bersama-sama dengan seluruh petani, bahkan bersama petani berkecukupan dan petani menengah. Di lain pihak, cuma berjuang bersama proletariat pedesaan sajalah, maka perjuangan melawan borjuis, dan karenanya juga berarti melawan petani berkecukupan, bisa diakukan dengan tepat. Bila kita selalu mengingat semua kebenaran Marxis yang elementer ini, yang oleh kaum Sosialis-Revolusioner selalu lebih suka dihindari, maka kita tak akan punya banyak kesulitan dalam menilai keberatan kaum Sosialis-Revolusioner “yang terakhir” atas Marxisme, seperti berikut ini:
“Mengapa itu perlu?” seruan dalam Revolutsionnaya Rossiya (no. 75), “Pertama mendukung kaum petani secara umum dalam melawan para tuan tanah, dan kemudian (yaitu, pada saat yang sama) mendukung kaum proletar menentang seluruh kaum petani, yang sekaligus sebagai ganti dari tindakan mendukung kaum proletar menentang para tuan tanah; dan apa yang Marxisme harus lakukan setelah itu, hanya surga yang tahu.”
Ini adalah titik pandang anarkisme paling primitif, yang naif kekanak-kanakan. Selama berabad-abad dan bahkan ribuan tahun, manusia bermimpi melenyapkan “secara sekaligus” segala bentuk dan jenis penghisapan. Mimpi ini tetap sekedar mimpi sampai jutaan orang di seluruh dunia yang dihisap mulai bersatu untuk melakukan perjuangan konsisten, kokoh dan komprehensif merubah masyarakat kapitalis dalam arahan evolusi masyarakat tersebut yang terjadi secara alamiah. Mimpi-mimpi sosialis beralih menjadi perjuangan sosialis berjuta manusia hanya ketika sosialisme ilmiah Marx berhasil mengkaitkan desakan untuk berubah dengan perjuangan dari suatu kelas tertentu. Di luar perjuangan kelas, sosialisme hanyalah ungkapan kosong dan mimpi naif. Bagaimanapun, di Rusia, dua bentuk perjuangan yang berbeda dari dua kekuatan sosial yang berbeda tengah berlangsung di belakang penglihatan kita. Kaum proletar sedang berjuang melawan borjuasi, dimanapun hubungan-hubungan produksi kapitalis itu ada (dan hubungan produksi kapitalis itu ada – ini patut diketahui kaum revolusioner kita – bahkan dalam komune petani, misalnya: di tanah-tanah yang menurut titik pandang mereka telah seratus persenn “disosialisasikan”). Sedang sebagai bagian dari strata pemilik tanah kecil, borjuis kecil, kaum petani berjuang melawan seluruh kelangsungan hidup perhambaan, melawan birokrat dan para tuan tanah. Hanya mereka yang benar-benar mengabaikan ekonomi politik dan sejarah revolusi-revolusi dunia yang bisa keliru melihat bahwa ini adalah dua perang sosial yang terpisah dan berbeda. Menutup mata terhadap perbedaan perang-perang tersebut dengan cara menuntut suatu gerakan yang “sekaligus” sama saja menyembunyikan kepala di bawah ketiak orang dan menolak membuat analisis realita. Kaum sosialis-revolusioner yang telah kehilangan integritas pandangan-pandangan kuno Narodnik, bahkan telah merupakan ajaran-ajaran Narodnik itu sendiri. Seperti itu-itu juga ditulis dalam Revolutsionnaya Rossiya dalam artikel yang sama: “Dengan menolong kaum petani untuk mengenyahkan tuan tanah, tuan Lenin tanpa sadar sudah membantu berdirinya ekonomi borjuis kecil di atas reruntuhan pertanian kepitalis yang kurang lebih sudah berkembang. Tidakkah ini sebuah “langah mundur” dari titik pandang Marxisme ortodoks?”
Memalukan, saudara-saudara!! Mengapa anda lupa dengan tulisan orang-orang anda sendiri, Mr. V.V.! Periksa tulisannya, Destiny of Capitalism, juga Sketches, tulisan tuan Nikolai-on, [6] dan sumber-sumber lain tentang bijaknya anda. Anda kemudian akan mengingat kembali bahwa pertanian tuan tanah di Rusia itu memadukan dalam dirinya gambaran baik kapitalisme dan pemilikan hamba-hamba. Kemudian anda akan menemukan bahwa terdapat suatu sistem ekonomi yang didasarkan pada sewa buruh, suatu sistem yang langsung mempertahankan sistem kerja tanpa upah. Jika lebih jauh lagi anda mencari pemecahan kesulitan tersebut pada buku macam Marxis ortodoks, seperti volume ke tiga Kapital-nya Marx, [7] anda akan temui bahwa dimanapun tak ada sistem kerja tanpa upah yang berkembang, dan dimanapun sistem itu tak bisa berkembang serta kemudian berubah menjadi pertanian kapitalis kecuali melalui perantaraan pertanian petani borjuis kecil. Dalam usaha anda menghalau Marxisme, anda malah mundur ke metode yang terlalu primitif, metode yang sudah demikian lampau digunakan; pada Marxisme secara langsung anda memberikan satu konsepsi pertanian kapitalis skala besar yang amat dangkal dan aneh melebihi konsep pertanian skala besar dengan dasar sistem kerja tanpa upah. Anda berpendapat bahwa karena hasil pertanian di tanah milik tuan tanah itu lebih tinggi dibandingkan dengan pertanian petani maka perampasan tanah milik tuan tanah adalah suatu langkah yang terbelakang. Argumentasi ini layak dinyatakan oleh seorang anak sekolah dasar kelas 4. Sekedar pertimbangan, Tuan-tuan: memisahkan hasil-rendah tanah petani dari hasil-tinggi perkebunan tuan-tuan tanah ketika perbudakan dihapuskan, tidakkah itu merupakan sebuah “langkah mundur”?
Sistem ekonomi tuan tanah di Rusia saat ini merupakan perpaduan antara ciri-ciri kapitalisme dan pemilikan-perhambaan. Secara obyektif, saat ini perjuangan kaum petani melawan para tuan tanah adalah perjuangan melawan kelangsungan hidup perhambaan. Tapi mencoba menghitung seluruh kasus individual, mempertimbangkan setiap kasusnya dan menentukan secara tepat dengan ukuran skala seorang ahli obat, untuk menemukan kapan berakhirnya masa pemilikan-perhambaan dan kapitalisme dimulai, itu berarti mencoba menganggap Marxis sama dengan sifat teliti dan cermat. Kita tidak bisa menghitung bagian apa dari harga bahan-bahan yang dibeli dari sebuah toko kecil, yang mewakili nilai lebih dan bagian apa dari harga itu yang mewakili penipuan atas kerja buruh, dan sebagainya. Apakah itu berarti kita harus membuang teori nilai kerja, saudara-saudara?
Ekonomi tuan tanah kontemporer memadukan gambaran kapitalisme dan perhambaan. Tetapi dari kenyataan tersebut hanya ilmuwan saja yang bisa berkesimpulan bahwa inilah tugas kita untuk mempertimbangkan, menghitung dan memaparkan tiap menit gambaran dalam katagori sosial ini dan itu. Oleh karenanya hanya kaum utopialah yang dapat berkesimpulan bahwa, “tidak ada kebutuhan” bagi kita untuk melukiskan perbedaan di antara dua perang sosial yang berbeda. Sehingga sebenarnya, satu-satunya kesimpulan sesungguhnya yang muncul adalah bahwa baik dalam program maupun taktik, kita harus memadukan perjuangan proletariat yang sejati melawan kapitalisme dengan perjuangan demokrasi secara umum (dan petani secara umum) melawan penghambaan.
Makin jelas gambaran kapitalis pada ekonomi tuan tanah semifeodal saat ini, maka makin mendesak keharusan untuk mengorganisir proletariat pedesaan secara terpisah, karena ini akan lebih cepat menolong kapitalis sejati atau proletariat sejati, pihak yang berantagonisme ini menegaskan posisi mereka dimanapun perampasan tanah terjadi. Makin jelas gambaran kapitalis dalam ekonomi tuan tanah, makin cepat perebutan yang demokratik memberi dorongan pada perjuangan yang sesungguhnya untuk sosialisme – dan konsekuensinya, makin bahayanya membangun cita-cita palsu revolusi demokratik melalui pemakaian slogan “sosialisasi”. Ini adalah kesimpulan yang ditarik dari kenyataan bahwa ekonomi tuan tanah adalah percampuran antara kapitalisme dan hubungan-hubungan pemilikan-perhambaan.
Jadi kita harus menggabungkan perjuangan proletar yang sejati dengan perjuangan petani pada umumnya, tetapi tidak mencampuradukan keduanya. Kita harus mendukung perjuangan demokratik dan perjuangan petani secara umum, tetapi tidak menenggelamkan diri dalam perjuangan yang tak berwatak kelas itu; kita tidak pernah boleh mencita-citakan perjuangan itu dengan slogan-slogan palsu seperti “sosialisasi”, atau melupakan kebutuhan untuk mengorganisir kaum proletariat urban dan pedesaan dalam sebuah partai kelas yang sepenuhnya mandiri dari Sosial-Demokrasi. Sambil memberikan dukungan sepenuhnya para demokratisme yang paling kokoh, partai tersebut tidak akan membolehkan dirinya dialihkan dari jalan revolusioner oleh mimpi-mimpi reaksioner dan usaha coba-coba melakukan “persamaan” dalam sistem produksi komoditi. Perjuangan kaum petani melawan para tuan tanah saat ini merupakan sebuah perjuangan revolusioner; perampasan tanah-tanah milik para tuan tanah pada tahap sekarang dari suatu evolusi ekonomi dan politik adalah revolusioner dalam setiap seginya dan kita mendukung serta menjaga tindakan Revolusioner-Demokratik ini. Tapi menyebut tindakan ini adalah “sosialisasi”, dan menipu dirinya maupun rakyat dengan mempertimbangkan kemungkinan terjadinya “persamaan” dalam pola penguasaan tanah di bawah sistem produksi komoditi, merupakan utopia kaum borjuis kecil yang reaksioner, pandangan yang kita letakkan pada kaum Sosialis-Reaksioner.
Catatan
1. Proudhonisme adalah sebuah aliran yang namanya berasal dari nama Pierre Joseph Proudhon (1809-1865), seorang sosialis borjuis kecil dan anarkis Perancis. Meskipun tajam mengkritik masyarakat kapitalis, Proudhon gagal memahami bahwa satu-satunya jalan untuk mengakhiri kemiskinan, ketidaksamaan, penghisapan dan kebusukan-kebusukan hubungan kapitalis lainnya adalah dengan menghapuskan hubungan itu. Blanquisme adalah sebuah trend dalam gerakan sosialis Perancis yang diwakili oleh tokoh revolusioner terkemuka dan eksponen komunisme utopia: Louise Auguste Blanqui (1805-1881). Menurut Lenin, kaum Blanquis “mengharapkan umat manusia akan dibebaskan dari perbudakan upah, tidak melalui perjuangan kelas tetapi melalui suatu persekongkolan yang ditumbuhkan oleh sekelompok kecil intelektual.” (V. I. Lenin, Collected Works, vol. 10, hal.392).
2. Narodisme adalah sebuah trend borjuis kecil dalam gerakan revolusioner Rusia tahun 1860 an dan 1870 an.
3. Suatu referensi pada aksi-aksi revolusioner kaum petani gubernia Poltava dan Kharkov di wilayah Ukraina (Rusia Kecil) akhir bulan Maret dan awal April 1902. Revolusi-revolusi itu dipercepat oleh kondisi petani yang sangat berat dan diperburuk oleh kegagalan panen dan kelaparan. Kaum petani menyerang tanah-tanah milik tuan-tuan tanah, merampas makanan dan makanan ternak serta menuntut redistribusi tanah. Gerakan ini dipadamkan dengan kekerasan.
4. Bernsteinisme adalah trend oportunis dalam gerakan Sosial Demokrat internasional pada akhir abad 19. Paham tersebut mengambil nama dari seorang revisionis, Eduard Bernstein (1850-1932), pemimpin sayap kanan ekstrim partai Sosialis-Demokrat Jerman dan Internasional kedua. Bernstein menentang perjuangan revolusioner oleh kelas buruh dan diktator proletariat, menyerukan kolaborasi antara golongan proletar dan borjuis dan menggaungkan slogan: “Gerakan adalah segalanya, tujuan akhir bukan apa-apa”, yang berarti mengganti perjuangan revolusioner untuk sosialisme dengan perjuangan untuk reformasi dalam kerangka negara borjuis.
5. Sosialis-Revolusioner (S.R.s) adalah sebuah partai borjuis kecil di Rusia yang terbentuk akhir tahun 1901 dan awal tahun 1902. Organ-organ resminya adalah koran Revolutsionnaya Rossiya (Rusia Revolusioner) (1900-1905) dan majalah Vetsnik Russkoi Revolutsii (Majalah Revolusi Rusia) (1901-1905).
6. V.V. adalah nama samaran V.P. Vorontsov, penulis buku Destiny of Capitalism in Russia. Nikolai-on adalah nama samaran N. Danielson, penulis buku Sketches on Our Post-Reform Socialist Economy. Voronstsov dan Danielson adalah idolog Narodisme Liberal di tahun 1880-an dan tahun 1890-an.
7. Lihat Karl Marx, Capital, Volume III, Bab. XVLII (“Genesis of Capitalist Ground-Rent” – “Munculnya sewa tanah kapitalis”).
Tags: karl marx, kepemilikan, Leninisme, Marxisme
You can comment below, or link to this permanent URL from your own site.
Agustus 2, 2008 at 7:32 pm
67kcdi3-9c75mo7-tw6qc99d-0 car insurance
http://best-online-casino-mo.lookera.net#1
[url=http://online-poker-mo.lookera.net#3]online poker[/url]
[url]http://roulette-mo.lookera.net#4[/url]
[http://urlser.com/?aBCA5#5 homeowners insurance]
“insurance”:http://urlser.com/?xFj4E#6
[LINK http://urlser.com/?aBCA5#7homeowners insurance[/LINK]
[img]http://victor.freewebhostingpro.com/1.php[/img]
Agustus 2, 2008 at 7:32 pm
setdu2l-gvlxe1r-tw6qc99d-0 best online casino
http://roulette-mo.lookera.net#1
[url=http://urlser.com/?e64r6#3]car insurance[/url]
[url]http://online-gambling-mo.lookera.net#4[/url]
[http://urlser.com/?3kTmj#5 auto insurance quotes]
“auto insurance”:http://urlser.com/?m6c0v#6
[LINK http://urlser.com/?m6c0v#7auto insurance[/LINK]
[img]http://victor.freewebhostingpro.com/1.php[/img]
Agustus 2, 2008 at 7:33 pm
fvramea-ky23hmq-tw6qc99d-0 texas holdem
http://urlser.com/?5Nnno#1
[url=http://texas-holdem-mo.lookera.net#3]texas holdem[/url]
[url]http://urlser.com/?boo2X#4[/url]
[http://urlser.com/?IQpnn#5 car insurance quotes]
“car insurance”:http://urlser.com/?e64r6#6
[LINK http://best-online-casino-mo.lookera.net#7best online casino[/LINK]
[img]http://victor.freewebhostingpro.com/1.php[/img]
Agustus 5, 2008 at 7:27 am
Useful blog. good luck.